SEJARAH BUNG KARNO
SEJARAH BUNG KARNO
Buat Bung Karno, nampaknya kesengsaraan tidak
ada hubungannya dengan gaya dan penampilan. Bung Karno tidak
menutup-nutupi masa lalunya yang melarat. Tentang bagaimana di masa
kanak-kanaknya, dirinya tidak pernah mengenal sendok dan garpu.
Bung
Karno juga mengenang bagaimana anak tetangga lain yang juga miskin,
tapi mereka masih bisa membeli jajan buah pepaya dan lainnya, sementara
dirinya sama sekali tidak mampu. Bahkan di hari Idul Fitri, dia cuma
bisa menatap sedih anak-anak miskin lain mampu membeli petasan yang
harganya cuma satu sen itu, sedang dirinya tidak. Satu sen pun dia tak
punya!
Dia juga menceritakan, bagaimana di keluarganya dulu
bahkan makan satu kali sehari pun, kadang tidak mampu. Tak jarang mereka
hanya makan ubi kayu dan jagung tumbuk. Untuk membeli beras paling
murah pun, ibunya tak sanggup. Solusinya, ibunya membeli padi yang masih
harus ditumbuk untuk memperoleh butiran beras. Karena dengan cara
begitu, mereka dapat menghemat uang satu sen dan dengan satu sen itu
ibunya bisa membeli sayur.
Mungkin juga karena tumbuh dalam
kondisi serba terbatas itu, Bung Karno tumbuh sebagai anak penyakitan.
Kata Bung Karno, “Aku memulai hidup ini sebagai anak yang penyakitan.
Aku mendapat malaria, disentri, semua penyakit dan setiap penyakit”.
Menurut kepercayaan tradisional, anak sakit-sakitan harus diganti
namanya. Karena itu Kusno nama kecilnya, diganti ayahnya menjadi
Soekarno.
Ketika kelak tumbuh sebagai remaja, dan sudah mempunyai
kesadaran berpenampilan, kemiskinan itu tampaknya tak mempengaruhi Bung
Karno dalam bergaya.
Kiriman uang saku dari orangtuanya
dan ekstra uang saku dari Pak Poegoeh kakak iparnya di Surabaya,
dihematnya sen demi sen. Namun itu tak berarti dirinya tidak bisa tampil
keren. Tampak dari foto-fotonya, sejak muda Bung Karno selalu berbusana
apik dan menawan. Biar kalah nasi, yang penting tidak kalah aksi!
Tampaknya sejak muda Bung Karno sudah punya bakat sebagai pencipta trend
mode di jamannya.
Di dalam buku “Sukarno Penjambung Lidah
Rakjat”, Bung Karno bercerita tentang perselisihannya dengan penghulu.
Ketika itu akan dilangsungkan pernikahannya dengan Utari, putri HOS
Tjokroaminoto. Itu adalah pernikahan pertama bagi Bung Karno. Penghulu
memintanya untuk melepaskan dasinya. Soalnya dasi itu dianggap simbol
budaya Kristen. Bung Karno tidak bisa mengerti larangan itu. Dia
berusaha menjelaskan, dirinya sangat menyukai berpakaian pantas dan
rapi. Tapi penghulu tidak mau menerima alasan itu. Karena Bung Karno
tetap ngotot mengenakan dasi, penghulu mulai menggertak. Penghulu
menolak menikahkan jika Bung Karno tidak melepaskan dasinya!
Bukannya
ciut oleh gertakan tadi, Bung Karno malah semakin marah. Persetan!
Rasanya dia lebih baik tidak menikah saja kalau soal berpenampilan pun,
dirinya mesti diatur-atur. Bung Karno menulis, “Dalam hal ini biarpun
Nabi sendiri sekalipun, takkan sanggup menyuruhku untuk menanggalkan
dasi”. Bung Karno menjadi emosi oleh penghulu yang mencoba mengatur dan
mengancamnya. Lalu dia menggeledek, “Persetan, tuan-tuan semua. Saya
pemberontak, dan saya akan selalu memberontak, saya tidak mau didikte
orang di hari perkawinan saya!”.
Sebagaimana umumnya lelaki, Bung
Karno juga pernah berusaha menumbuhkan kumisnya. Mungkin bisa tampak
lebih gagah dan ganteng. Tapi sayang usaha itu sia-sia. Kumisnya hanya
tumbuh sebaris tipis saja. Sejak itu dia tidak pernah lagi mencoba-coba
jadi “Pak Kumis”. Tetap bergaya klimis rapi.
Di
sebuah majalah jadul, saya pernah membaca wawancara dengan Dewi
Soekarno. Dewi bercerita tentang bagaimana Bung Karno tetap
memperhatikan penampilannya, juga ketika usianya beranjak senja. Bung
Karno sering memintanya menolong bukan saja mengecat rambutnya yang
beruban, tapi juga alisnya! Sebelum Bung Karno berpidato, untuk
menyamarkan pucat di wajahnya, tak jarang Dewi membubuhi sedikit rona
merah dengan pupur membayang tipis di wajah suaminya itu.
Kesukaan
Bung Karno akan gaya dan penampilan mematahkan pendapat orang tentang
pria Jawa yang umumnya berpenampilan seadanya. Sudah banyak yang
membahas bagaimana peran Bung Karno sebagai trend setter mode pria di
Indonesia. Mulai dari idenya tentang pemakaian kopiah yang hingga kini
dipakai pria Indonesia dan menjadi salah satu identitas bangsa. Juga
gaya busananya yang banyak ditiru pria di jamannya. Misalnya stelan jas
putih dan baju safari lengan pendek maupun lengan panjang.

Baju
kepresidenannya yang bergaya militer membuatnya tampak gagah
berdampingan dengan pemimpin dunia lainnya. Baju itu adalah hasil
rancangannya sendiri. Karena itu Bung Karno pernah tersinggung dengan
kritik Kepala Staf Angkatan Perang TB Simatupang (kala itu masih
kolonel) yang menyarankan Bung Karno agar tidak memakai baju militer
dengan segala atributnya itu.
Sejak menjadi pemimpin bangsa,
Bung Karno tak pernah tampak mengenakan pakaian adat yang mewakili suku
tertentu. Dia punya alasan khusus tentang ini. Bukan karena tidak
mencintai tradisi. Justru sebaliknya dialah penganjur tradisi budaya,
termasuk pakaian adat. Namun sebagai kepala negara, dia memposisikan
dirinya harus netral berdiri di atas semua golongan demi persatuan dan
kesatuan bangsa. Karena itu dia mengorbankan identitas sukunya dengan
sama sekali tidak pernah berpakaian daerah.
Walaupun semasa
menjadi presiden tidak pernah berbusana daerah, namun Sukarno punya
kepedulian terhadap pelestarian batik. Sukarno menghidupkan tradisi
pameran batik di istana negara. Salah satu konsep Sukarno tentang batik
khas Indonesia yaitu batik motif Terang Bulan. Motif batik ini kemudian
dirintis dan diwujudkan oleh Ibu Sud atau Saridjah Niung Bintang
Soedibjo.
Dulu Bung Karno sering meledek Ibu Sud yang berpinggul
besar itu dengan julukan “bokong gede”, menunjukkan pertemanan mereka
yang akrab. Karena keakraban itu, Ibu Sud paham bagaimana menerjemahkan
batik Indonesia konsep Bung Karno. Selain dikenal sebagai pencipta lagu
kanak-kanak, Ibu Sud (nenek disainer busana Carmanita) ini memang juga
seorang pembatik. Motif batik Terang Bulan konsep Sukarno adalah batik
yang mengkombinasikan motif batik kraton dan batik pesisir.
DIKUTIP DARI BLOG DIDIK SUGIARTO




